Secara umum istilah governance lebih ditujukan untuk sistem pengendalian dan pengaturan perusahaan, dalam arti lebih ditujukan pada tindakan yang dilakukan eksekutif perusahaan agar tidak merugikan para stakeholder. Good Corporate Governance memang menyangkut orang (moralitas), etika kerja, dan prinsip-prinsip kerja yang baik.
Ada empat model pengendalian perusahaan :
1. Simple financial model.
Ada konflik kepentingan antara pemilik dan manajer. Karena tidak memiliki saham, dikhawatirkan manajer akan banyak merugikan pemilik saham. Maka diperlukan kontrak insentif (misalnya hak pemilikan, bonus, dll), atau aturan-aturan yang melindungi kepentingan pemilik.
2. Stewardship model. Berbeda dengan model pertama, manajer dianggap steward, sehingga tidak terlalu perlu dikontrol. Ini bisa terjadi pada perusahaan keluarga, dimana direksi dikendalikan ketat oleh pemegang saham, sehingga diperlukan direktur yang independen.
3. Stakeholder model.
Perusahaan merupaka satu sistem dari stakeholder dalam suatu sistem masyarakat yang lebih luas. Suara stakeholder diakomodasi dalam struktur dewan direksi. Karyawan diusahakan bekerja seumur hidup.
4. Political model.
Pemerintah memiliki pengaruh besar, misalnya dalam mengatur jumlah maksimum kepemilikan saham, dll.
Pada prakteknya, GCG dilaksanakan dengan gabungan dari empat hal diatas. Tujuannya adalah bagaimana mengarahkan dan mengontrol perusahaan melalui distribusi hak/tanggungjawab semua pihak dalam perusahaan.
PRINSIP-PRINSIP GCG YANG BAIK
Transparancy
Penmgungkapan informasi merupakan hal penting, sehingga semua pihak berkepentingan tahu pasti apa yang telah dan bisa terjadi.
Laporan tahunan perusahaan harus memuat berbagai informasi yang diperlukan, demikian pula perusahaan go-public. Persyaratan untuk ini antara lain disusun oleh Komite Nasional Bagi Pengelolaan Perusahaan Yang Baik (KNPPB).
Fairness
GC yang baik mensyaratkan adanya perlindungan untuk hak minoritas. Perlakuan yang sama dan adil pada semua pemegang saham, melarang kecurangan insider trading, dll. KNPPB mensyaratkan minimal 20% direksi berasal dari luar yang tidak ada hubungan dengan pemegang saham dan direksi.
Accountability
Ada pengawasan yang efektif berdasarkan keseimbangan kekuasaan antara pemegang saham, komisaris, dan direksi. Ada pertanggung-jawaban dari komisaris dan direksi, serta ada perlindungan untuk karir karyawan. Perlu ditetapkan berapa kali rapat dalam kurun waktu tertentu, serta berbagai sistem pengawasan yang lain.
Responsibility
Perlu dipastikan adanya kepatuhan perusahaan pada peraturan dan undang-undang yang berlaku. Misalnya dalam PT terbuka perlu adanya sekretaris perusahaan.
Ada lagi yang menambahkan asas disiplin, independency, dan social-awareness, check and balance, dan social involvement.
Etika Kerja
GC lebih banyak mengatur komisaris dan direksi, namun prinsip-prinsip GC harus diangkat menjadi etika kerja perusahaan. Diperlukan penerapan prinsip-prinsip CG dalam perilaku kerja karyawan perusahaan. Sebagai contoh, inilah beberapa kode etik yang disusun oleh sebuah komite di luar negeri ;
Kewajiban karyawan pada perusahaan :
· Menghindari gangguan yang tidak masuk akal pada proses produksi.
· Menggunakan kemampuan dan mengembangkan potensi sebanyak mungkin, khususnya bila baru saja mendapat pelatihan.
· Tidak membocorkan rahasia perusahaan.
· Jujur dan melaporkan setiap tindakan yang membahayakan.
· Menghormati kontrak kerja.
· Tidak melakukan hal-hal yang merugikan pemegang saham.
Kewajiban karyawan pada manajer :
· Mendukung dan membantu untuk memenuhi kewajiban etis dan komersial.… dst
Kewajiban karyawan pada karyawan lain:
· Tidak melakukan tindakan yang salah pada karyawan lain,
· Tidak mengintimidasi karyawan lain … dst…
Kewajiban karyawan pada masyarakat luas :
· Memberikan perhatian pada kesehatan lingkungan …Dst..
Good Corporate Governance dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan semua pihak yang berhubungan dengan perusahaan (stakeholders). Diharapkan hal ini akan segera bisa dirumuskan lebih lanjut dan diterapkan dalam perusahaan-perusahaan.
Memang masih banyak hal yang harus dipikirkan, antara lain :
Apakah bentuk akhir penerapan GCG ini hanya pengawasan yang lebih ketat? Apakah dampaknya pada inovasi dan kreativitas ? Apakah bentuknya bisa lebih diarahkan bersifat positif, bukan hanya larangan-larangan saja, dll dsb.
Diolah dari berbagai sumber, antara lain Warta BRI no. 04/XXV/2001 dan berbagai sumber lain.
Di tengah-tengah terus mengalirnya berbagai berita tentang buntut yang panjang dari kasus BLBI, yang menyebabkan dirugikannya rakyat sampai ratusan triliun Rupiah dan persidangan di pengadilan tentang dana Yayasan Supersemar, maka berita tentang parahnya kemiskinan yang menimpa penduduk di banyak daerah di Indonesia merupakan peringatan keras kepada kita semua bahwa negara dan bangsa kita dewasa ini memang sedang menghadapi situasi yang memerlukan perbaikan atau perubahan secara besar-besaran. Kasus suapan 6 miliar Rupiah kepada jaksa Urip dan orang-orang lainnya dari Kejaksaan Agung oleh Artalyta Suryani (orang dekat Syamsul Nursalim) menunjukkan hanya sebagian kecil sekali dari banyaknya pejabat penting negara dan « tokoh-tokoh » utama masyarakat Indonesia yang sudah tumbang imannya atau bejat moralnya.
Keruntuhan iman atau pembusukan moral ini tercermin dalam banyaknya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan untuk menumpuk kekayaan dengan cara-cara haram, atas kerugian negara dan rakyat. Contoh-contohnya dapat selalu kita baca dalam pers Indonesia, yang sebagian di antaranya juga sering disiarkan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm dalam rubrik « Korupsi memalukan Islam dan bangsa ».
Kalau kita baca berita-berita soal korupsi di kalangan « atasan », yang jumlahnya sering bisa sampai bermiliar-miliar Rupiah, dan kemudian kita banding-bandingkan dengan berita tentang banyaknya orang miskin dan anak-anak balita yang kurang gizi dan busung lapar, maka bisa mengertilah kita bahwa ada orang-orang yang sudah keterlaluan marahnya sehingga sampai mengatakan bahwa negara kita memerlukan revolusi sosial. Memang, adalah hal yang benar atau hal yang sah (artinya, baik sekali !) bahwa hati dan fikiran banyak orang « brontak » terhadap situasi yang membikin puluhan juta -- bahkan mungkin lebih dari seratus juta -- penduduk Indonesia menderita kesengsaraan yang parah dan berkepanjangan terus.
Berikut di bawah ini disajikan beberapa kutipan pers dan juga tulisan yang bisa dijadikan bahan untuk renungan kita bersama tentang kemiskinan yang parah di kalangan rakyat kita. Apa yang diungkapkan di sini dimaksudkan sekadar sebagai dorongan kepada kita semuanya untuk bersama-sama ikut memikirkan tentang sebab-sebab kemiskinan ini dan kemungkinan-kemungkinan untuk mencari jalan mengatasinya.
Di Banten, Jatim, Sulsel dan Jateng
Menurut harian Sinar Harapan (25 Maret 2008) : » Jumlah penduduk miskin di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun sebagai akibat dari kondisi perekonomian yang tidak stabil. Kenaikan harga-harga akhir-akhir ini termasuk sembako dikhawatirkan akan semakin meningkatkan angka kemiskinan. Fakta tersebut dirangkum Sinar Harapan dari beberapa daerah termasuk Banten, Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Sulawesi Selatan), dan Cilacap (Jawa Tengah). “Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat jumlah kemiskinan mengalami kenaikan. Jika tahun 2006 tercatat 786.700 keluarga miskin, tetapi pada awal tahun 2008 menjadi 886.000 keluarga. Jika satu keluarga terdiri dari suami, istri, dan satu anak, maka jumlah orang miskin di Banten mencapai 2.685.000 orang, dari 9,5 juta penduduk Banten. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mengakui terdapat 11.244 bayi di bawah umur lima tahun (balita) yang menderita gizi buruk, di antaranya 15 balita meninggal.
“Di Jawa Timur, dari sekitar 38 juta jiwa penduduknya, 7,1 juta jiwa masih berada di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan ini dipicu oleh jaminan kehidupan yang sangat rendah, mulai dari pendapatan rendah, pendidikan rendah, jumlah tanggungan banyak, atau karena musibah. Fakta lain bisa dilihat dari angka balita gizi buruk yang cukup tinggi. Pada Januari 2008, di Surabaya tercatat pasien gizi buruk sebelas anak dan balita. Pada Februari 2008, sembilan pasien gizi buruk dirawat. Hingga pertengahan Maret lalu, sudah delapan pasien dirawat karena kasus yang sama. Data gizi buruk tersebut hanya yang tercatat di RS Dr Soewandie Surabaya, belum termasuk di RS lainnya.
Jumlah warga miskin makin bertambah
“Dari data Dinkes Surabaya, pada tahun 2006, prevalensi balita gizi kurang sebesar 8,32 persen dan pada 2007 turun menjadi 6,86 persen. Tahun 2006 sebesar 2,09 persen, dan tahun 2007 menjadi 1,96 persen. Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr Esti Martiana mengatakan tingginya kasus gizi buruk karena perilaku hidup sehat masyarakat yang memang rendah, ditunjang dengan rendahnya daya beli. Semburan lumpur Sidoarjo yang telah berlangsung hampir dua tahun ini memiliki kontribusi munculnya kemiskinan baru. Ribuan warga kehilangan pekerjaan. Demikian juga bencana banjir yang melanda lebih dari 15 daerah di Jatim semakin menambah keterpurukan petani, apalagi harga kebutuhan pokok semakin melambung.
”Di Kota Makassar, jumlah warga miskin sekitar 350.780 jiwa (70.156 keluarga) atau sekitar 30 persen dari total penduduk 1,2 juta jiwa lebih. Sementara itu tahun 2005 jumlahnya masih sekitar 60.000 keluarga yang tersebar di 14 kecamatan. Berdasarkan data sensus daerah (Susda) Provinsi Sulsel dua tahun lalu, jumlah penduduk miskin masih 201.487 juta keluarga (sekitar 820.000 jiwa) atau sekitar 10,85 persen dari sekitar 8 juta jiwa penduduk di daerah ini. Jumlah tersebut terus berkembang hingga saat ini. Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Sulsel mencatat, dari 23 kabupaten/kota di Sulsel, masih terdapat tujuh kabupaten dalam kondisi rawan pangan, diantaranya Kota Makassar, Kabupaten Jeneponto, Takalar, dan Selayar.
“Begitu pula di Cilacap, Jawa Tengah, 635.000 jiwa atau sekitar 163.000 keluarga berstatus warga miskin. Hal itu disampaikan secara resmi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) pada pekan lalu. Jumlah warga miskin tersebut merupakan 37 persen dari jumlah total penduduk Cilacap yang mencapai 1,7 juta jiwa. Sementara itu, berdasarkan jatah beras untuk warga miskin (raskin) di wilayah Bulog Subdivisi Regional IV Banyumas, di Cilacap yang mendapat bantuan raskin sekitar 170.000 keluarga, di Banyumas 173.479 keluarga, Kabupaten Purbalingga 105.690 keluarga dan Banjarnegara 112.979 keluarga. (Kutipan dari Sinar Harapan, 25 Maret 2008, disingkat)
Bisa makin bertambah parah lagi
Apa yang tercantum di atas adalah baru satu berita dari satu koran pada satu hari saja, tetapi toh sudah cukup kiranya bagi seseorang untuk membayangkan betapa besarnya kemiskinan yang juga melanda berbagai daerah lainnya di negeri kita, umpamanya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Tengah, Maluku, Indonesia Timur, Nusa Tenggara, termasuk di pulau Jawa. Penderitaan rakyat yang diakibatkan oleh kemiskinan yang luas ini sekarang makin bertambah lagi, dengan adanya kenaikan yang tinggi sekali harga-harga pangan (beras, jagung, kedelai, cabe, daging sapi, ayam, minyak goreng dll) dan bahan bakar. Kenaikan harga pangan ini masih akan bisa lebih parah lagi kalau krisis pangan di skala internasional sudah mulai juga memasuki negeri kita. Maka, betul-betul cilakalah sebagian besar rakyat Indonesia !!!
Adalah sangat menarik untuk diperhatikan bersama bahwa soal krisis pangan ini rupanya mendorong presiden SBY mengirim surat kepada Sekjen PBB , Ban Ki Moon, karena harga-harga pangan di skala internasional sudah melambung tinggi dengan kenaikan 40 %. Ini masih ditambah gejolak keuangan global yang sampai sekarang belum rampung dan kita belum tahu tentang kerusakan atau dampak yang terjadi. Pernyataan presiden SBY ini dikuatkan oleh pernyataan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Miranda Goeltom, yang mengatakan bahwa harga komoditas pangan dunia saat ini mencapai puncak tertinggi. (Sinar Harapan, 27 Maret 2008)
Kalau harga-harga makin memuncak dan krisis pangan mulai menyerang, maka akan makin banyak jugalah anak-anak balita yang mengalami gizi buruk atau busung lapar. Artinya, kalau menurut Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian (Deptan) RI Tjuk Eko Hari Basuki, 27 persen bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesia mengalami gizi buruk, maka angka 27 persen itu akan bertambah, entah dengan berapa persen. "Gizi buruk itu tidak terjadi mendadak, tapi sudah lama. Hasilnya, kami memberikan Rp25 juta kepada setiap dari 300 kabupaten/kota yang tergolong miskin. Di Jatim sendiri tercatat delapan daerah miskin, terutama di Madura dan kawasan `tapal kuda`," katanya, menurut berita Antara 13 Maret 2008.
Anak-anak balita yang kurang gizi
Para pembaca yang budiman, mohon direnungkan dalam-dalam isi beberapa berita tersebut di atas. Mengapa di negeri kita, yang terkenal sebagai negeri yang kaya dengan sumber alam dan beraneka-ragam tumbuh-tumbuhan, dan sebagian besar tanahnya juga subur, bisa menghadapi kemiskinan yang demikian parah ? Siapakah yang salah, dan apanya sajakah yang salah ? Atau, siapa yang harus bertanggungjawab atas keadaan yang sudah membikin kesengsaraan puluhan juta, bahkan ratusan juta penduduk ini ? Dan lagi, mohon juga ikut difikirkan akibat yang menyedihkan bagi generasi kita yang akan datang, kalau 27 persen dari anak-anak balita di seluruh Indonesia menderia kurang gizi dan busung lapar. Karena, anak-anak balita yang kurang gizi ini akan kurang normal pertumbuhannya, sehingga akan merusak mutu generasi kita di kemudian hari.
Untuk menambah gambaran lainnya tentang akibat kemiskinan yang meluas di Indonesia adalah angka-angka yang juga cukup “mengerikan” yang bersumber dari UNICEF dan disiarkan oleh harian Kompas (28 Maret 2008). Di situ dijelaskan bahwa 69 juta orang di Indonesia tidak memiliki akses terhadap sanitasi dasar dan 55 juta orang di Indonesia tidak memiliki akses terhadap sumber air yang aman. Menurut sumber tersebut, keadaan yang demikian ini menyebabkan setiap tahun 100.000 anak berusia dibawah 3 tahun di Indonesia meninggal karena penyakit diare. Ditambahkan juga bahwa setiap harinya ada sekitar 5.000 anak dibawah umur 5 tahun yang meninggal karena diare itu.
Kiranya, jelaslah bahwa sebagian besar kemiskinan yang begitu parah di berbagai daerah negeri kita ini sama sekali bukanlah kesalahan puluhan juta penduduk itu sendiri. Dan, jelaslah juga bahwa 27% dari anak-anak balita di seluruh Indonesia yang kurang gizi atau busung lapar adalah bukan pula dosa anak-anak itu atau orang tua mereka masing-masing. Dan kiranya perlu pula diyakini oleh kita semua bahwa kemiskinan yang menimpa begitu banyak orang itu sama sekali bukanlah kehendak Tuhan atau takdir semata-mata. Atau, juga sama sekali bukanlah hukuman Tuhan atau cobaan terhadap jutaan manusia yang tidak bersalah apa-apa. Artinya, kemiskinan yang luas itu bukanlah « nasib » semata-mata, yang harus diterima dengan sabar dan tawakal saja. Kemiskinan itu adalah akibat perbuatan manusia-manusia juga, yang juga bisa dirubah atau dilawan bersama-sama. Sebab, walaupun banjir sering melanda berbagai daerah, atau gempa menggoncang banyak tempat, atau bahaya kekeringan menimpa banyak lahan, atau lumpur Lapindo sudah menenggelamkan banyak rumah penduduk, namun penderitaan banyak orang bisa ditanggulangi, dan kemiskinan bisa juga dikurangi, asal saja ada pengelolaan negara yang beres. Negara dan pemerintahan ini adalah bikinan manusia. Negara dan pemerintahan bisa baik, kalau dikelola oleh orang-orang yang baik dan dengan sistem yang baik pula. Dan orang-orang beserta sistem inilah merupakan unsur utama dari suatu kekuasaan politik.
Kemiskinan yang meluas adalah produk kekuasaan politik
Kemiskinan yang sekarang ini melanda Indonesia secara luas, pengangguran yang membengkak sampai puluhan juta orang, anak-anak balita yang kurang gizi yang begitu banyak (27% dari seluruh balita di Indonesia), korupsi yang terus merajalela, kerusakan moral dan kebejatan iman yang telah membusukkan kehidupan « elite » bangsa, kasus BLBI yang berbuntut panyang, kasus KKN-nya Suharto beserta anak-anaknya, bobroknya sistem hukum dan peradilan, berbagai pelanggaran HAM, adalah semuanya produk satu kekuasaan politik. Yaitu produk kekuasaan politik yang mula-mula dibangun oleh Suharto dengan Orde Barunya, dan diteruskan oleh berbagai pemerintahan, sampai pemerintahan SBY-JK yang sekarang ini.
Dengan naiknya harga-harga yang makin menyulitkan kehidupan sehari-hari bagi rakyat, maka banyak golongan dalam masyarakat akhir-akhir ini menggelar berbagai kegiatan atau aksi-aksi di banyak daerah, untuk memanifestasikan kemarahan mereka dan aspirasi mereka akan adanya perubahan untuk perbaikan hidup mereka. Banyaknya aksi-aksi dan beraneka-ragamnya tuntutan yang mereka lancarkan adalah tanda yang penting (dan menggembirakan sekali) yang menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat berani bangkit dan mengeluarkan suara-suara mereka, untuk mengkritik penyelenggaraan pemerintahan yang tidak beres, untuk menghujat korupsi dan penyelewengan kekuasaan, dan untuk melawan segala ketidakadilan.
Banyaknya aksi-aksi atau beraneka-ragamnya kegiatan yang dilakukan oleh berbagai golongan ini (antara lain : pemuda, mahasiswa, buruh, tani, pegawai negeri, perempuan, pedagang kecil, korban Lapindo, korban gempa dan banjir, pekerja perkebunan) juga menunjukkan makin bertambahnya kesadaran banyak orang untuk berorganisasi dan melakukan kegiatan atau perjuangan secara kolektif dan terkoordinasi. Walaupun sebagian dari aksi-aksi ini untuk sementara masih berjalan sendiri-sendiri atau terpencar-pencar, namun tetap merupakan bagian dari perkembangan yang penting. Sebab, perkembangan perjuangan berbagai golongan ini akhirnya akan melahirkan kekuatan-kekuatan baru dan pemimpin-pemimpin baru, setelah melalui “seleksi” jangka panjang oleh rakyat yang mendambakan demokrasi dan keadilan. Dalam situasi yang begini ini, peran kaum muda dari berbagai kalangan adalah sangat penting, sebagai bagian dari agen-agen perubahan.
Sekali lagi, patut diulangi, bahwa bangkitnya berbagai kalangan atau golongan masyarakat melalui aksi-aksi atau kegiatan yang beraneka-ragam adalah maha-penting untuk perjuangan memperbaiki kehidupan sehari-hari dan melawan politik pemerintah yang merugikan kepentingan rakyat. Bangkitnya berbagai golongan melalui aksi-aksi yang terkoordinasi juga akan merupakan sumbangan penting kepada usaha untuk mengadakan perubahan-perubahan besar, termasuk perubahan dalam kekuasaan politik. Karena, makin jelaslah sudah sekarang ini, bahwa banyak lembaga negara dan pemerintahan (umpamanya DPR) makin kehilangan kepercayaan rakyat. Karena itu, maka aksi-aksi atau kegiatan extra-parlementer akan memegang peran yang makin penting dan utama dalam mengusahakan adanya perubahan-perubahan yang besar dan mendasar.
Mengikuti jejak Amerika Latin
Perlulah kiranya diulangi, untuk kesekian kalinya, bahwa pengalaman di banyak negeri Amerika Latin (terutama Venezuela dan Bolivia) menunjukkan betapa pentingnya berbagai aksi-aksi massa luas sebagai sumbangan -- yang menentukan! -- kepada berhasilnya perjuangan parlementer untuk mengambil alih kekuasaan politik dari tangan kaum reaksioner. Akan datanglah saatnya nanti, bagi kekuatan demokratis di Indonesia, untuk mengikuti jejak serta pengalaman negeri-negeri Amerika Latin, tetapi dengan menemukan cara dan jalannya sendiri, yang sesuai dengan kondisi kongkrit negeri kita.
Jadi, singkatnya, kemiskinan, pengangguran, anak balita yang kurang gizi, dibarengi dengan korupsi dan kebobrokan moral yang bisa kita saksikan bersama-sama dengan jelas dewasa ini adalah semuanya merupakan “penyakit kronis’ yang ditimbulkan oleh kekuasaan politik yang tidak mengutamakan kepentingan rakyat banyak. Kekuasaan politik ini (yang didominasi oleh Golkar serta para simpatisan Orde Baru) namanya yang sekarang adalah pemerintahan SBY-JK.
Dan, sudah bisalah kita ramalkan, bahwa berbagai “penyakit kronis” yang demikian parah itu tidak akan bisa diberantas dengan adanya pemerintahan baru yang dihasilkan Pemilu tahun 2009. Sebab, sudah jelas bahwa Pemilu 2009 tidak akan melahirkan kekuasaan politik yang pro-rakyat, yang anti-dominasi ekonomi asing, dan yang tegas-tegas berorientasi masyarakat adil dan makmur, seperti yang dicita-citakan sejak lama oleh rakyat bersama Bung Karno.
Sumber : http://annabelle.aumars.perso.sfr.fr/Kemiskinan%20d%20Indonesia.htm
Berikut adalah tulisan untuk menyambut Hari Buruh 1 Mei di Indonesia, sebagai sekadar sumbangan untuk renungan bersama mengenai pentingnya arti gerakan buruh bagi bangsa dan negara kita.
Gerakan buruh, yang dilancarkan oleh berbagai golongan di Indonesia akhir-akhir ini makin marak dimana-mana, terutama di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Yang demikian ini adalah suatu hal yang menggembirakan, sesudah selama 32 tahun gerakan buruh di Indonesia telah dikebiri, dibius, atau dicekek oleh rejim militer Orde Baru.
Kebangkitan gerakan buruh yang makin meluas di berbagai daerah dewasa ini adalah perkembangan yang penting sekali dalam usaha bangsa kita untuk membela kepentingan rakyat dalam perjuangan bersama meraih perbaikan hidup melalui penyelenggaraan negara yang lebih baik. Berkembangnya gerakan buruh di Indonesia merupakan kebutuhan yang mutlak ketika rakyat sedang mengalami berbagai penderitaan yang disebabkan oleh banyaknya korupsi, dan juga oleh jeleknya berbagai politik pemerintah yang tidak mementingkan kepentingan rakyat.
Dalam situasi politik, ekonomi dan sosial seperti yang sedang kita alami dewasa ini, maka peran gerakan buruh serta berbagai ragam aksi-aksi extra-parlementer lainnya adalah senjata utama rakyat untuk melawan segala politik pemerintah (dan berbagai golongan lainnya) yang anti-rakyat dan berkabolarasi dengan kekuatan ekonomi asing di Indonesia. Karenanya, berkembangnya gerakan buruh yang kuat di Indonesia merupakan hal yang hanyalah menguntungkan seluruh bangsa, dan tidak merugikan siapa-siapa, kecuali kaum penghisap keringat rakyat.
Kalau dilihat secara jauh dan menyeluruh, kemenangan gerakan buruh adalah juga kemenangan seluruh rakyat Indonesia, seperti halnya kemenangan gerakan buruh di dunia bagi kepentingan rakyat masing-masing.
Tercapainya kesejahteraan rakyat di Eropa (dan di berbagai negeri lainnya) , seperti yang kita saksikan atau dengar sekarang ini, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan gerakan buruh yang sudah berabad-abad lamanya. Tingkat hidup yang tinggi dan baiknya jaminan sosial di berbagai negeri Eropa adalah hasil yang diperoleh rakyat dari perlawanan panjang serikat buruh terhadap kelas penindas dan penghisap rakyat banyak. Dari sejarah berbagai negeri di dunia, terutama negeri-negeri Eropa, kelihatan sekali bahwa gerakan buruh menjadi salah satu motor yang maha penting bagi kemajuan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan di masing-masing negara.
Gerakan buruh di masa Bung Karno
Di Indonesia, di bawah kepemimpinan presiden Sukarno, gerakan buruh pernah menjadi bagian yang amat penting dari kehidupan bangsa. Bung Karno, bersama pemimpin-pemimpin lainnya, pernah memberikan tempat yang terhormat kepada gerakan buruh dengan menyebutkannya sebagai “soko guru revolusi”. Perwakilan kaum buruh diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, MPRS , DPR, Front Nasional, dan berbagai lembaga negara penting lainnya. Gerakan buruh Indonesia, selama kurun waktu itu, mempunyai citra yang tinggi dan mendapat penghargaan dari gerakan buruh sedunia.
Salah satu di antara banyak kejahatan besar rejim militer Orde Baru di bawah Suharto adalah “dibunuhnya” gerakan buruh, dipangkasnya kekuatan buruh dari kehidupan politik nasional, ditangkapnya atau dibunuhnya - secara besar-besaran ! - para pemimpin dan kader serikat buruh dengan dalih bahwa mereka adalah simpatisan atau anggota PKI. Selama Orde Baru serikat buruh telah dibungkem, dan diganti dengan serikat buruh gadungan atau serikat buruh kuning (dengan nama FBSI, Federasi Buruh Seluruh Indonesia) yang sepenuhnya menjadi alat rejim militer Orde Baru. Aktivitas serikat buruh dikontrol secara ketat, dan siapapun tidak boleh mendirikan serikat buruh, sedangkan Hari Buruh 1 Mei (yang sejak proklamasi 45 sudah dirayakan sampai tahun 1965) juga dilarang.
Sesudah Suharto sudah tidak lagi menjadi pemimpin rejim militer Orde Baru, maka mulailah kembali berbagai serikat buruh yang meliputi macam-macam sektor atau bidang.
Belasan ribu serikat buruh di seluruh Indonesia
Sekarang ini terdapat diseluruh Indonesia lebih dari sebelas ribu serikat buruh yang bernanung di bawah sekitar 70 federasi. Gerakan buruh yang selama 32 tahun dibungkem, telah bangkit kembali secara pelan-pelan. Serikatburuh-serikat buruh ini memainkan peran yang makin lama makin penting dalam perjuangan rakyat menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan sosial bangsa.
Sebagian terbesar dari serikat buruh Indonesia yang bermacam-macam ini merupakan kekuatan non-pemerintah dan independen , yang memikul tugas untuk membela kepentingan para anggotanya untuk berhadapan dengan negara (pemerintah) dan pengusaha dalamnegeri dan modal asing. Tugas yang demikian itu tidaklah mudah atau ringan, berhubung masih adanya sikap yang keliru, yang kolot, yang buruh-phobie atau anti-buruh. Memang, tuduhan yang salah bahwa gerakan buruh adalah alat golongan komunis (atau didalangi PKI, atau beraliran kiri) sekarang sudah menjadi barang dagangan yang tidak laku lagi atau tidak dipercayai oleh banyak orang, tetapi orang-orang yang sudah terkontaminasi oleh kiri-phobie atau buruh-phobie juga masih masih ada di berbagai kalangan.
Dalam daftar nama serikatburuh dan federasi buruh Indonesia yang dikeluarkan oleh badan PBB ILO (International Labour Organisation) tercermin di situ bahwa serikat buruh atau federasi buruh Indonesia ini terdiri dari macam-macam aliran atau pandangan politik, agama, dan juga golongan etnis atau suku. Beraneka ragam serikat buruh ini sudah menyebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Para aktivis gerakan buruh Indonesia patut sekali bangga bahwa sekarang di negeri kita ada kekuatan yang bisa menjadi alat, atau tameng, atau senjata rakyat banyak, yaitu yang berupa berbagai macam serikat buruh, yang makin lama memainkan peran yang makin penting. Dan makin berkembangnya atau makin besarnya gerakan buruh di Indonesia tidak saja penting bagi perjuangan membela kepentingan sosial-ekonomi para anggotanya yang berjumlah puluhan juta orang ini, melainkan juga penting bagi perjuangan rakyat sebagai keseluruhan.
Menghadapi kehidupan rakyat yang makin sulit
Dalam menghadapi banyaknya kesulitan-kesulitan besar dan penyakit parah yang dihadapi rakyat dewasa ini (korupsi yang terus merajalela, pengangguran yang besar sekali, kemiskinan yang meluas, sisa-sisa kejahatan keluarga Suharto, agressi modal asing dll dll) peran gerakan buruh Indonesia makin penting dan tanggungjawabnya juga makin berat. Kehidupan yang makin sulit dan penderitaan yang makin besar bagi kaum buruh (dan sebagian terbesar rakyat Indonesia lainnya) karena kenaikan harga sembako dan krisis pangan di dunial akan mendorong atau mengharuskan gerakan buruh Indonesia untuk menggalakkan perjuangannya di berbagai bidang.
Bangkitnya secara besar-besaran gerakan buruh Indonesia untuk membela kapentingan anggota-anggotanya, akan merupakan sumbangan besar (dan penting sekali !) kepada perjuangan bersama di bidang politik. Sebab, melalui aksi-aksi yang dilakukan gerakan buruh itu akan kelihatan dengan jelas bahwa banyak persoalan dan penderitaan yang dihadapi kaum buruh Indonesia adalah akibat dari jeleknya politik yang dijalankan oleh kekuasaan atau pemerintahan. Jadi persoalan ekonomi-sosial kaum buruh Indonesia berhubungan erat sekali dengan politik. Itu sebabnya, pada dasarnya, perjuangan gerakan buruh Indonesia juga tidak bisa terlepas sama sekali dari perjuangan politik.
Sekarang ini makin kelihatan bahwa partai-partai politik yang ada, baik yang di parlemen maupun yang dewan-dewan perwakilan rakyat di berbagai tingkat, sudah tidak mampu lagi membela kepentingan kaum buruh (dan rakyat) dengan sungguh-sungguh. Sebagian terbesar di antara mereka hanya sibuk dengan urusan partai masing-masing, urusan uang sidang atau perjalanan, urusan pribadi dan golongan saja. Karenanya, kaum buruh sudah tidak bisa menggantungkan sepenuhnya harapan mereka hanya kepada DPR atau pemerintah. Kaum buruh Indonesia, seperti halnya banyak kaum buruh di negeri-negeri lainnya, harus bangkit mandiri untuk memperjuangkan perbaikan hidup.anggota-anggotanya dan rakyat banyak.
Golkar adalah lawan gerakan buruh
Belasan ribu serikat buruh yang tergabung dalam banyak federasi buruh di seluruh Indonesia merupakan kekuatan besar atau motor penggerak penting untuk perubahan politik di negeri kita. Dalam perjuangan besar ini, gerakan buruh di Indonesia akan melihat dengan jelas bahwa perbaikan secara mendasar di berbagai bidang kehidupan hanyalah bisa dilakukan oleh kekuasaan politik yang berlainan sama sekali dari pada yang sekarang ini. Dalam bahasa yang lebih jelas : kekuasaan politik seperti yang selama ini memerintah negara kita tidaklah akan mampu mengadakan perubahan besar atau perbaikan yang fundamental bagi kehidupan kaum buruh dan rakyat luas.
Dan dari pengalaman perjuangan selama ini, gerakan buruh di Indonesia juga akan melihat dengan gamblang sekali bahwa perjuangan sosial-ekonomis mereka itu akan bisa meraih hasil sebesar-besarnya, dengan berjuang melawan sisa-sisa politik Orde Baru. Pengalaman 32 tahun Orde Baru ditambah 10 tahun pasca-Suharto sudah menunjukkan bahwa pengikut atau simpatisan Orde Baru (antara lain Golkar) bukanlah kekuatan yang bisa dan mau (!!!) memperjuangkan kehidupan kaum buruh dengan tulus. Bahkan sebaliknya, Golkar adalah kekuatan utama Orde Baru dalam menghancurkan atau melumpuhkan tradisi perjuangan gerakan buruh di Indonesia. Pada dasarnya, Golkar adalah lawan gerakan buruh.
Pentingnya kaum muda dalam gerakan buruh
Perkembangan di negara-negara Amerika Latin menunjukkan betapa pentingnya gerakan buruh sebagai pendorong adanya perubahan-perubahan besar dan fundamental melalui pengubahan atau perebutan kekuasaan politik. Yang paling jelas contohnya yalah apa yang terjadi di Venezuela dan Bolivia. Di berbagai negara Amerika Latin gerakan buruh, yang bersatu dengan golongan tani, pemuda dan mahasiswa, dan dibantu oleh golongan progressif di kalangan militer, berhasil membentuk front nasional, untuk mengganti kekuasaan politik yang tadinya dikuasai oleh kalangan reaksioner dalamnegeri yang bersekutu dengan kekuatan besar modal asing.
Seiring dengan akan terus sangat memburuknya situasi politik, ekonomi dan sosial, yang akan menyebabkan penderitaan yang lebih parah lagi bagi sebagian terbesar rakyat, pastilah gerakan buruh Indonesia juga akan mengalami pasang naik. Dan ikut aktifnya golongan kaum muda sebagai pimpinan dan kader dalam gerakan buruh dewasa ini adalah suatu hal penting dan menggembirakan. Sebab, perjuangan gerakan buruh bisa juga berfungsi sebagai gudang pengalaman serta tempat latihan dan penggemblengan bagi calon-calon pemimpin dan kader, yang sungguh-sungguh mau mengabdi kepada kepentingan rakyat.
Dengan masih merajalelanya korupsi dan parahnya pembusukan moral dimana-mana (terutama di kalangan pemerintahan) maka serikat buruh bersama-sama berbagai macam organisasi rakyat dapat mengkontrol partai-partai politik yang akan memperoleh banyak suara dalam Pemilu 2009. Sebab, sudah bisa diperkirakan bahwa situasi politik, ekonomi dan sosial negeri kita tidak akan menjadi lebih baik dengan adanya hasil Pemilu 2009. Selama kekuasaan politik ada di tangan golongan reaksioner yang anti-rakyat dan bersekutu dengan kepentingan neo-liberalisme, maka negara kita akan tetap terus menghadapi penyakit-penyakit parah, yang menyengsarakan rakyat banyak seperti sekarang ini. Bahkan mungkin lebih parah lagi di kemudian hari !
Mengingat itu semua, maka makin nyatalah bahwa gerakan buruh di Indonesia merupakan asset bangsa yang penting dan berharga sekali dalam usaha untuk juga mendorong tergalangnya kekuatan-kekuatan yang berjuang untuk adanya perubahan atau penggantian kekuasaan politik, sehingga menjadi kekuasaan politik tipe baru, yang betul-betul berjuang untuk terciptanya masyarakat adil dan makmur di Indonesia.
Kisah yang disajikan oleh Sadewa di bawah ini adalah salah satu saja di antara beberapa ratusan ribu (bahkan, mungkin jutaan !) kisah nyata tentang berbagai kejadian yang menyedihkan atau mengharukan sekitar peristiwa 65. Sebenarnya, kisah yang kurang lebih sejenis atau serupa masih banyak sekali yang bisa ditemukan di seluruh Indonesia. Sejak Suharto turun dari kedudukannya sebagai presiden dan pimpinan tertinggi Orde Baru, sedikit demi sedikit mulai muncul terbuka kisah-kisah tentang kejadian-kejadian di sekitar peristiwa 65 ini.
Tetapi, masih banyak sekali kisah-kisah tentang peristiwa 65 yang terpendam atau tersembunyi sampai sekarang. Padahal, munculnya kisah-kisah nyata itu sehingga diketahui oleh orang banyak adalah mutlak penting sekali, untuk menunjukkan watak sebenarnya atau sifat jahat Suharto beserta para pembangun Orde Baru lainnya. Mengangkat atau menyebarluaskan kisah-kisah nyata tentang kejahatan Orde Baru adalah bagian yang penting dari usaha untuk menjadikannya sebagai pendidikan bangsa.
Peristiwa 65 adalah gudang besar sejarah yang berisi berbagai kisah nyata tentang kebiadaban dan kekejaman yang mengerikan, menyedihkan, menakutkan, (atau juga memuakkan !) yang pernah dilakukan oleh Suharto dkk beserta pendukung-pendukungnya terhadap sejumlah besar sekali golongan kiri dan simpatisan-simpatisan Bung Karno. Sampai sekarang, masih terdapat banyak orang, dimana-mana, yang bisa menceritakan dengan sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya pengalaman mereka ini.
Sebagai contoh, wawancara singkat Sumarsono (nama samaran) kepada Sadewa seperti yang ditulis di bawah ini merupakan bukti kuat tentang betapa sewenang-wenangnya serta betapa kejamnya aparat (baca : Angkatan Darat) waktu itu terhadap orang-orang yang dianggap kiri atau pengikut PKI. Dan seperti yang diketahui oleh banyak orang, kejadian semacam yang dialami ayah dan ibu Sumarsono di Pekalongan ini juga terjadi di banyak sekali daerah di seluruh Indonesia. Dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, sampai Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan tempat-tempat lainnya.
Jadi, sekarang ini masih banyak sekali saksi hidup dari kalangan eks-tapol dan para korban 65 beserta sanak saudaranya yang bisa menceritakan kembali apa yang sudah terjadi dengan sebenarnya sekitar peristiwa 65 itu. Sebagian kecil sekali di antara mereka sudah ada yang mau, dan sudah berani, berbicara tentang perlakuan sewenang-wenang dan tidak bermanusiawi yang mereka alami. Tetapi sebagian terbesar dari mereka masih belum bisa melakukannya, oleh karena berbagai faktor atau sebab.
Padahal, terungkapnya sebanyak-banyaknya berbagai kisah nyata tentang peristiwa 65 itu adalah penting – dan berguna sekali !!! - bagi kehidupan bangsa dan generasi selanjutnya. Perbuatan kejam secara besar-besaran – dan biadab - yang dilakukan terhadap jutaan orang tidak bersalah apa-apa itu adalah aib bangsa kita, dan merupakan pelajaran berharga , yang tidak boleh terulang lagi di kemudian hari.Untuk tidak mengulangi lagi, perlulah kiranya diketahui dengan baik dan jelas apa-apa saja dari kebiadaban yang sudah terjadi.
Dari segi ini kelihatanlah bahwa pengungkapan kisah-kisah mengenai peristiwa 65 adalah tindakan yang mempunyai tujuan luhur bagi kehidupan bangsa, dalam rangka usaha bersama untuk benar-benar menjunjung tinggi-tinggi Pancasila (Pancasila menurut jiwa aslinya, yaitu jiwa Bung Karno, dan bukannya menurut “Pancasila” palsu yang selama lebih dari 32 tahun dikoar-koarkan secara munafik oleh Suharto beserta para pendukungnya).
Menyebarluaskan segala tindakan biadab dan tidak manusiawi oleh Suharto beserta para pendukung setia Orde Baru - dan mengutuknya - adalah perlu sekali dalam usaha untuk membersihkan bangsa kita dari penyakit jiwa yang parah atau iman yang sesat, yang bisa menyebabkan terjadinya kebiadaban-kebiadaban luar biasa di sekitar peristiwa 65 dan sesudahnya. Bangsa kita tidak bisa atau tidak pantas digolongkan sebagai bangsa terhormat selama masih mendiamkan (bahkan menyembunyikan) berbagai kekejaman yang berkaitan dengan peristiwa 65.
A. Umar Said
Berikut adalah wawancara Sadewa (alamat E-mailnya : sadewa48@centrin.net.id) dengan saksi hidup Sumarsono (nama samaran) yang berasal dari daerah Pekalongan
* * *
(Ringkasan transkrip wawancara dengan Sumarsono pada 4 Maret 2001 di Jakarta. Atas permintaan narasumber, semua nama orang diganti tetapi tiga huruf pertama tetap asli. Nama tempat semuanya asli.)
Aku lupa kapan presisnya. Tapi kira-kira dekat dengan akhir tahun 1965. Malam itu sebuah truk warna abu-abu gelap berhenti di rumah orangtuaku, Sukartono, yang tinggal di desa Kesesi tak jauh dari kota Kawedanan Kajen Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Sebenarnya itu bukan rumah orangtuaku. Ayah, ibu dan aku (anak tunggal) mengungsi di rumah itu dari desa Sebedug. Desa ini terletak dekat jalan pertigaan. Kalau ke Utara sampai Wiradesa, kalau ke Timur sampai Kecamatan Karanganyar dan kalau ke Selatan sampai kota Kawedanan Kajen.
Kami mengungsi ke rumah saudara ayahku di Kesesi karena merasa tidak aman, sebab sejak pecah peristiwa 30 September 1965 itu, banyak anggota BTI (atau dituduh BTI) ditangkapi dan ditahan. Ada juga yang dari desa Sangangjaya, Watubelah, Tambor, Kemploko dan lain-lain.
Malam itu, kami bertiga dinaikkan ke atas truk di mana sudah banyak orang lain di atasnya. Beberapa di antaranya saling kenal dengan ayah ibuku. Truk itu menuju ke kantor Kepolisian Kajen. Beberapa hari kami ditahan di tempat itu yang letaknya tak jauh dari sebuah sungai.
Selanjutnya kami bertiga kembali dinaikkan truk menuju ke Pekalongan. Seperti yang pertama, di atas truk sudah ada beberapa orang dengan tangan terikat. Sebelum masuk kota Pekalongan truk menuju ke arah timur, dan setelah sampai di luar kota membelok ke kiri menuju ke utara, lalu menyusuri jalan kecil ke timur. Semua penumpang diam membisu. Di atas truk ada "aparat" yang tak kuketahui jelas, polisi atau tentara, bercelana loreng tapi bajunya hitam sipil dan pakai ikat kepala merah.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh di tempat sepi itu, si “aparat” berteriak pada sopir sambil memukul-mukul atap truk. "Ini sudah sampai Gamer. Ya, ini Gamer. Coba cari jalan ke utara arah pantai biar urusannya gampang, ha, ha!"
Tentu saja aku tak tahu apa maksud kata-kata itu. Rupanya Gamer nama desa yang terletak antara kota Pekalongan dan Batang, menyusuri daerah pantai. Sepi, gelap, tapi sayup-sayup aku mendengar suara debur ombak. Rupanya truk sudah mendekati pantai.
Truk berhenti, tapi hanya kami bertiga yang diturunkan. Yang lain dibiarkan di atas truk. Pak "aparat" ikut turun. Ada satu "aparat" lagi turun dari samping sopir. Dia membawa benda panjang yang dibungkus kain hitam. Di atas truk masih ada tiga "aparat" lagi yang semua memakai pakaian polisi dan tidak ikut turun. Mereka membawa senjata api. Kami digiring terus ke utara, dan suara debur ombak semakin terdengar nyata.
Kami disuruh berhenti. "Ayo jongkok" perintah Pak "aparat" yang membawa benda panjang dibungkus kain hitam itu. Kami bertiga jongkok. Tapi ayahku diseret untuk jongkok agak terpisah.
"Kamu Sukartono sudah lama dicari-cari. Malam ini kamu harus mati" kata Pak "aparat" dengan kasar. Dia membuka kain yang membungkus benda panjang itu dan aku tahu ternyata benda itu sebuah golok atau pedang. Jantungku berdebar kencang dan ternyata aku terkencing-kencing di celana. Ketika itu usiaku baru 13 tahunan karena baru lulus SD. Aku sadar, ayahku akan dibunuh.
"Hei, lihat sana!" Bentak Pak "aparat" satunya lagi memaksa ibuku dan aku memandangi ayahku yang sedang berjongkok menunggu maut. Ibuku menutupi wajah dengan tangannya, tapi langsung ditendang. Golok itu berkelebat. Dan ibuku jatuh menindih tubuhku yang ikut roboh. Aku masih sempat melihat bagaimana kepala ayahku lepas dari lehernya. Sementara ibuku pingsan.
Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit dan aku diseret dipaksa berjalan kembali ke atas truk. Tapi aku tak melihat ibuku lagi. Aku ditendang naik ke atas truk. Orang-orang yang tadi di atas truk masih utuh tak ada yang berkurang. Tapi kedua Pak "aparat" tidak ikut naik. Mataku mencari sosok ibuku di kegelapan malam namun tak terlihat. Apakah ikut dipenggal? Lalu di mana kedua mayat orangtuaku? Aku ingat kata-kata Pak "aparat" ketika mengajak si sopir truk mendekati pantai "biar gampang urusannya". Apakah artinya ayahku (dan mungkin juga ibuku) dibuang ke laut sesudah dibunuh agar tanpa repot-repot menguburkan dan meninggalkan bekas?
Aku tak bisa berpikir. Truk berbelok ke arah Barat dan memasuki kota Pekalongan, berhenti di depan sebuah penjara yang terletak berseberangan dengan kali. Tengah malam itu semua penumpang disuruh turun dari truk, langsung digiring masuk ke penjara yang kemudian kuketahui namana Penjara Loji.
* * *
Mungkin ada duabelas tahunan aku menghuni penjara itu dan aku tetap tak mendapat berita di mana gerangan ibuku, yang bernama Sumiarti, kalau masih hidup, sampai saatnya aku dibebaskan. Yang aneh, di penjara itu namaku "disulap" menjadi Sutrisno, anggota Pemuda Rakjat pelarian dari Kediri. Itulah identitas yang harus kuakui setiap kali ada pemeriksaan. Padahal namaku Sumarsono. Aku tahu apa yang disebut Pemuda Rakyat tapi jelas aku tidak pernah menjadi anggotanya karena ketika masuk pejara itu aku baru menginjak usia 13 tahunan. Kediri adalah nama kota di Jawa Timur yang hanya kukenal dalam pelajaran sekolah. Tapi itulah yang harus kuakui sebagai "kota kelahiranku".
Karena "pelarian dari Kediri", maka saat pembebasan aku digabungkan dengan para tahanan yang akan dipulangkan ke Semarang. Mereka kelihatan gembira akan kembali ke kampung halamannya. Kecuali aku yang justru bingung. Dalam perjalanan salah seorang teman berbisik: "Kalau kau memang bukan asal Kediri, nanti ikut turun saja di Semarang, kita coba bertani di kampungku. Aku orang Boja".
Ringkas kata, aku mengikuti ajakannya. Mungkin ada empat tahunan aku di Boja, untuk kemudian kami berdua sepakat untuk sama-sama mengadu nasib ke Jakarta sebagai kuli bangunan. Semula kami tetap berdua tinggal di bedeng, sampai bisa mengontrak kamar dan setelah cukup mapan kami berpisahan untuk membangun rumahtangga sendiri.
Kini kami berkeluarga dengan tiga anak. Usiaku (2001) 49 tahunan, tapi aku tak putus harapan, kiranya pada suatu saat masih bisa bertemu dengan ibuku, Sumiarti yang tentunya sudah berusia lebih dari 75 tahunan dengan ciri-ciri ada bekas luka di kaki kanannya.
Sumber : http://annabelle.aumars.perso.sfr.fr/Kepala%20Ayah%20Dipenggal%20di%20Depan%20Mataku2.htm